Pubertas dalam Perspektif Psikolog Islam: Bekal Santri Memahami Perubahan Diri Menuju Kedewasaan
Depok, 29 September 2026 – Masa pubertas merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan kehidupan setiap individu. Pada masa ini, seseorang mulai mengalami berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun dalam cara berpikir. Untuk membantu para santri memahami perubahan tersebut secara positif dan proporsional, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago mengadakan kegiatan konseling dengan tema “Pubertas dalam Perspektif Psikolog Islam”.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 29 September 2026 bertempat di Aula Fanani, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago dan dihadiri oleh seluruh santri. Kegiatan menghadirkan Imas Maslahul Islahiah, M.Pd., CTRS., CCLS., CCHS. sebagai pembicara.
Kegiatan konseling ini menjadi ruang edukasi bagi para santri untuk mengenali dan memahami fase pubertas yang sedang atau akan mereka alami. Tidak hanya membahas perubahan fisik, materi juga mengajak santri memahami perubahan perasaan, pola pikir, serta meningkatnya tanggung jawab seiring bertambahnya usia.
Memahami Pubertas sebagai Bagian dari Perjalanan Menuju Dewasa
Dalam kegiatan tersebut dijelaskan bahwa pubertas merupakan masa ketika seseorang mulai bertumbuh menuju kedewasaan. Pubertas bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti ataupun dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, pubertas merupakan bagian alami dari proses pertumbuhan manusia.
Pada masa ini, terdapat beberapa perubahan yang mulai dirasakan oleh seseorang, di antaranya:
- Tubuh mulai mengalami perubahan.
- Perasaan mulai berkembang.
- Cara berpikir mulai bertumbuh.
- Muncul kesadaran yang lebih besar terhadap diri sendiri dan lingkungan.
- Mulai tumbuh ketertarikan atau perasaan terhadap orang lain.
Pemahaman seperti ini penting diberikan kepada santri agar mereka tidak merasa bingung ketika menghadapi perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Setiap perubahan merupakan bagian dari perjalanan menuju tahap kehidupan berikutnya. Anak-anak akan memasuki masa pubertas, kemudian berkembang menjadi remaja, hingga akhirnya menjadi pribadi dewasa yang memiliki tanggung jawab lebih besar.
Perjalanan dari Anak-Anak Menuju Dewasa
Dalam sesi konseling, perjalanan pertumbuhan manusia digambarkan sebagai sebuah proses yang berlangsung secara bertahap.
Anak-anak → Pubertas → Remaja → Dewasa
Setiap tahapan memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing. Karena itu, santri perlu memahami bahwa tidak semua orang mengalami perubahan dalam waktu dan cara yang sama.
Ada seseorang yang mungkin mengalami perubahan lebih cepat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar selama berada dalam proses perkembangan masing-masing.
Mengenal “Badai dalam Diri” Saat Pubertas
Salah satu bagian penting dalam kegiatan konseling adalah pembahasan mengenai kondisi emosional yang sering muncul selama masa pubertas.
Fase ini dapat diibaratkan sebagai “badai dalam diri”, karena seseorang terkadang mengalami berbagai perasaan yang datang silih berganti.
Santri diajak mengenali beberapa kondisi yang mungkin muncul, seperti:
- Mudah merasa kesal.
- Mudah merasa sedih.
- Mudah merasa malu.
- Terkadang merasa minder.
- Terkadang mudah marah.
- Merasa bingung dengan perubahan yang dialami.
- Mulai memiliki perasaan terhadap orang lain.
Berbagai emosi tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia dalam proses bertumbuh. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengenali, memahami, dan mengelola perasaan tersebut dengan cara yang tepat.
Emosi Bukan Sesuatu yang Harus Disembunyikan
Dalam proses menuju kedewasaan, santri perlu memahami bahwa memiliki rasa sedih, marah, malu, bingung, atau minder bukan berarti dirinya lemah.
Setiap manusia memiliki emosi. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana merespons emosi tersebut secara sehat.
Ketika merasa marah, misalnya, seseorang perlu belajar memahami penyebab kemarahannya. Ketika merasa sedih, seseorang juga perlu memberikan ruang kepada dirinya untuk memahami kesedihan tersebut.
Begitu pula ketika muncul rasa minder atau malu. Perasaan tersebut tidak harus membuat seseorang menjauh dari lingkungan ataupun merasa dirinya tidak berharga.
Melalui pemahaman yang baik, santri diharapkan mampu melihat bahwa perubahan emosi merupakan bagian dari proses mengenal diri sendiri.
“You Are Not Alone”: Jangan Takut untuk Bercerita
Pesan penting lainnya yang disampaikan dalam kegiatan konseling adalah bahwa setiap santri tidak harus menghadapi semua kebingungan dan perasaannya seorang diri.
“You are not alone.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ketika seseorang membutuhkan bantuan, ia dapat berbicara kepada orang yang dipercaya.
Orang tersebut bisa berupa orang tua, guru, ustadz, ustadzah, pembimbing, konselor, atau orang dewasa lain yang dapat memberikan ruang aman untuk bercerita.
Berbicara bukan berarti seseorang tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Justru, keberanian untuk berbicara ketika membutuhkan bantuan merupakan bagian dari proses belajar mengenali kebutuhan diri.
Terkadang Seseorang Hanya Ingin Didengarkan
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang yang bercerita selalu membutuhkan jawaban atau solusi.
Terkadang seseorang hanya ingin didengarkan.
Hal sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi dapat memberikan rasa aman bagi seseorang yang sedang menghadapi kebingungan dalam dirinya.
Pesan ini juga menjadi pembelajaran penting bagi para santri. Ketika seorang teman datang dan menceritakan perasaannya, tidak selalu harus langsung memberikan nasihat. Ada kalanya yang paling dibutuhkan adalah kehadiran, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Dengan demikian, lingkungan pesantren dapat menjadi ruang yang mendukung perkembangan emosional dan sosial para santri.
Setiap Orang Memiliki Waktu Tumbuhnya Sendiri
Salah satu pesan yang juga ditekankan dalam kegiatan adalah bahwa setiap orang memiliki waktu tumbuhnya sendiri.
Pertumbuhan seseorang tidak selalu berlangsung dengan pola yang sama. Ada yang lebih cepat mengalami perubahan tertentu, sementara yang lain mengalaminya secara bertahap.
Karena itu, santri tidak perlu membandingkan proses pertumbuhan dirinya dengan orang lain.
Perbandingan yang berlebihan dapat membuat seseorang merasa tertinggal, minder, atau justru merasa lebih unggul dari orang lain. Padahal, setiap individu memiliki perjalanan yang berbeda.
Belajar Menerima Proses Pertumbuhan Diri
Memahami bahwa setiap orang memiliki waktu tumbuhnya sendiri dapat membantu santri lebih menerima dirinya.
Tidak perlu merasa malu karena perubahan yang sedang dialami. Tidak perlu pula merasa rendah diri hanya karena merasa berbeda dengan teman.
Yang lebih penting adalah terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Pertumbuhan bukan hanya tentang perubahan fisik. Pertumbuhan juga berarti berkembang dalam cara berpikir, mengelola emosi, mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain, serta menjalankan tanggung jawab.
Semakin Bertumbuh, Semakin Besar Tanggung Jawab
Bertambahnya usia tidak hanya berarti tubuh menjadi semakin besar. Bersamaan dengan pertumbuhan tersebut, tanggung jawab seseorang juga semakin bertambah.
Seorang anak memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan seorang remaja. Begitu pula seorang remaja nantinya akan memiliki tanggung jawab yang lebih besar ketika memasuki masa dewasa.
Karena itu, masa pubertas seharusnya tidak hanya dipahami sebagai masa perubahan fisik, tetapi juga sebagai masa persiapan untuk menjadi pribadi yang lebih matang.
Santri perlu mulai belajar bertanggung jawab terhadap pilihan, perilaku, waktu, hubungan dengan orang lain, serta kewajiban yang dimiliki.
Bertumbuh Berarti Belajar Bertanggung Jawab
Tanggung jawab dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Misalnya, bertanggung jawab terhadap kebersihan diri, menjaga barang pribadi, mengikuti aturan pesantren, menghormati guru dan teman, menyelesaikan tugas, menjaga ucapan, serta mampu mengakui kesalahan.
Hal-hal sederhana tersebut merupakan latihan yang akan membentuk karakter seseorang dalam perjalanan menuju kedewasaan.
Semakin seseorang bertumbuh, semakin besar pula kemampuan yang diharapkan untuk mengelola dirinya sendiri.
Pentingnya Pendidikan Pubertas bagi Santri
Pembahasan mengenai pubertas menjadi bagian penting dalam pendidikan santri karena fase ini berkaitan erat dengan perkembangan fisik, emosional, sosial, dan pola pikir.
Di lingkungan pesantren, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akademik dan keagamaan. Santri juga membutuhkan pendampingan dalam memahami dirinya sendiri.
Dengan adanya edukasi mengenai pubertas, santri dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan yang sedang terjadi.
Mereka juga dapat belajar bahwa setiap perubahan merupakan bagian dari proses kehidupan yang perlu dijalani dengan pengetahuan, pendampingan, dan tanggung jawab.
Pendekatan yang edukatif dan sesuai dengan nilai-nilai Islam juga dapat membantu santri memahami proses pertumbuhan secara lebih positif.
Membangun Lingkungan Pesantren yang Aman untuk Bertumbuh
Kegiatan konseling seperti ini juga menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan pribadi peserta didik.
Santri yang sedang berada dalam masa pertumbuhan membutuhkan lingkungan yang dapat memberikan rasa aman untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Ketika santri merasa didengar dan dipahami, mereka akan memiliki ruang untuk belajar mengenali dirinya dengan lebih baik.
Pesantren dapat menjadi tempat yang tidak hanya membentuk kemampuan intelektual dan spiritual, tetapi juga membantu santri berkembang menjadi pribadi yang matang secara emosional dan sosial.
Konseling sebagai Ruang Edukasi dan Pendampingan
Kegiatan konseling bukan hanya diperuntukkan bagi santri yang sedang menghadapi masalah. Konseling juga dapat menjadi sarana edukasi dan pencegahan agar santri memiliki bekal dalam menghadapi berbagai fase kehidupannya.
Melalui kegiatan seperti ini, santri memperoleh kesempatan untuk memahami dirinya, mengenali emosinya, serta mengetahui kepada siapa mereka dapat berbicara ketika membutuhkan bantuan.
Hal tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendidikan karakter di lingkungan pesantren.
Kegiatan yang Membuka Ruang Dialog bagi Santri
Kegiatan “Pubertas dalam Perspektif Psikolog Islam” di Aula Fanani, Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago, pada 29 September 2026 menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi seluruh santri untuk memahami fase pertumbuhan yang sedang mereka jalani.
Dengan menghadirkan Imas Maslahul Islahiah, M.Pd., CTRS., CCLS., CCHS., materi disampaikan dengan fokus pada pemahaman diri, perkembangan emosi, proses menuju kedewasaan, serta pentingnya memiliki orang yang dipercaya untuk menjadi tempat bercerita.
Pesan yang sederhana tetapi penting menjadi bekal bagi para santri: setiap orang memiliki proses pertumbuhannya sendiri, tidak harus menghadapi semuanya seorang diri, dan semakin bertumbuh maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijalankan.
Pada akhirnya, pubertas bukan sekadar fase perubahan tubuh. Pubertas merupakan bagian dari perjalanan panjang seseorang untuk mengenal dirinya, memahami perasaannya, membangun cara berpikir yang lebih matang, dan mempersiapkan diri menuju kedewasaan.
Dengan pendampingan yang tepat, fase tersebut dapat menjadi kesempatan bagi santri untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, mampu mengelola emosi, serta memiliki hubungan yang sehat dengan lingkungan di sekitarnya.
Kegiatan konseling di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pendampingan santri dalam menjalani setiap tahap pertumbuhan dengan pemahaman yang baik dan nilai-nilai positif.
Ingin Menghadirkan Program Konseling dan Parenting untuk Lembaga Pendidikan?
Pendampingan psikologis dan pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan sekolah maupun pesantren yang mendukung perkembangan peserta didik.
Bagi sekolah, pesantren, yayasan, maupun lembaga pendidikan yang ingin menghadirkan kegiatan konseling, parenting, pembinaan santri, pengembangan SDM, atau program pendidikan karakter, dapat menghubungi PRIMAGO.
Hubungi PRIMAGO melalui WhatsApp: +62 896-2002-0062.
PRIMAGO siap menjadi sahabat perjuangan lembaga pendidikan Islam dalam menghadirkan program pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah dan pesantren.







