Berita

Teater Primago Hidupkan Kisah Istiqlal dalam Pementasan “Estafet Syukur Bangsa”

JAKARTA — Malam di Masjid Istiqlal tidak hanya menjadi ruang bagi doa dan kekhusyukan. Dalam rangkaian Istighosah Qiyamul Lail Masjid Istiqlal, suasana malam itu juga diisi dengan sebuah pementasan teater yang membawa penonton menyusuri kembali perjalanan panjang berdirinya Masjid Istiqlal.

Melalui pementasan bertajuk “Istiqlal Estafet Syukur Bangsa”, Teater Primago menghadirkan kisah tentang kemerdekaan, perjuangan, keberagaman, gotong royong, serta hubungan antara sejarah bangsa dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Pementasan tersebut tidak hanya menampilkan cerita mengenai pembangunan sebuah masjid. Lebih dari itu, Teater Primago mencoba menghadirkan Istiqlal sebagai simbol perjalanan Indonesia yang dibangun melalui kontribusi banyak tangan dengan latar belakang yang berbeda.

Sejumlah tokoh hadir dalam alur cerita, mulai dari Ir. Soekarno, KH Wahid Hasyim, Mohammad Hatta, Frederich Silaban, Presiden Soeharto, para pekerja bangunan, narator, hingga tiga anak santri yang menjadi penghubung antara generasi masa kini dengan kisah sejarah pembangunan Istiqlal.

Sejak awal, pementasan telah membawa penonton pada suasana yang khidmat. Panggung dalam keadaan gelap. Sebuah lampu sorot kemudian mengarah kepada sosok Ir. Soekarno yang berdiri tegap di tengah panggung.

Rekaman Proklamasi Kemerdekaan 1945 terdengar dari pengeras suara. Musik instrumental kemudian mengiringi suasana, menciptakan atmosfer haru sekaligus reflektif.

Narator membuka cerita dengan sebuah prolog yang menghubungkan kemerdekaan bangsa dengan rasa syukur kepada Allah.

“Merdeka batinnya… Toleransi abadi… Istiqlal… wujud syukur pada Ilahi!”

Kalimat tersebut menjadi pintu masuk bagi penonton untuk mengikuti perjalanan panjang berdirinya Masjid Istiqlal.

Pertanyaan Para Santri Membuka Perjalanan Sejarah

Salah satu pendekatan menarik dalam pementasan Istiqlal Estafet Syukur Bangsa adalah kehadiran tiga anak santri sebagai pintu masuk cerita.

Ketiga santri tersebut digambarkan sedang melihat kemegahan Masjid Istiqlal. Mereka memperhatikan tiang-tiang, kubah, serta arsitektur masjid yang begitu besar.

Rasa kagum tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai pertanyaan.

Mengapa Masjid Istiqlal berada begitu dekat dengan Gereja Katedral?

Mengapa masjid tersebut diberi nama Istiqlal?

Dan bagaimana sebenarnya perjalanan hingga bangunan besar tersebut dapat berdiri?

Pertanyaan sederhana dari para santri itu kemudian membawa cerita memasuki perjalanan waktu.

Narator menjelaskan bahwa keberadaan Istiqlal bukanlah sesuatu yang berdiri tanpa sejarah. Nama, lokasi, proses pembangunan, hingga orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki cerita masing-masing.

Para santri kemudian mundur dan menjadi pengamat. Alur cerita bergerak menuju tahun 1953.

Melalui cara tersebut, penonton diajak melihat sejarah dari perspektif generasi muda. Para santri tidak ditempatkan sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai generasi yang bertanya, mendengarkan, dan mencoba memahami warisan yang diterima dari generasi sebelumnya.

Pendekatan tersebut membuat kisah sejarah terasa lebih dekat. Sejarah tidak hanya disampaikan sebagai kumpulan tahun dan nama tokoh, tetapi menjadi sebuah cerita yang dapat dipertanyakan dan direnungkan oleh generasi muda.

Istiqlal sebagai Wujud Syukur atas Kemerdekaan

Cerita kemudian memasuki percakapan antara Ir. Soekarno dan KH Wahid Hasyim.

Dalam alur pementasan, KH Wahid Hasyim menyampaikan gagasan bahwa kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan melalui darah dan air mata layak diwujudkan dalam sebuah monumen syukur.

Soekarno kemudian mengungkapkan nazar yang pernah diucapkannya pada masa perjuangan.

Ia memiliki keinginan untuk membangun sebuah masjid agung sebagai wujud syukur kepada Allah apabila Indonesia memperoleh kemerdekaan sejati.

Namun masjid yang dibayangkan bukan sekadar bangunan tempat beribadah.

Dalam dialog pementasan, Soekarno menegaskan bahwa masjid tersebut juga harus menjadi simbol kemandirian bangsa. Bangunan itu harus dirancang dan dibangun oleh anak bangsa sebagai karya Indonesia yang telah merdeka.

Ketika pembicaraan berlanjut mengenai nama, KH Wahid Hasyim mengusulkan nama Istiqlal.

Dalam pementasan, Istiqlal dijelaskan berasal dari bahasa Arab yang bermakna merdeka atau kemerdekaan. Karena itu, nama tersebut kemudian dimaknai sebagai Masjid Kemerdekaan.

Dari sinilah makna Istiqlal dalam pertunjukan mulai diperluas. Istiqlal bukan hanya nama sebuah masjid, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan Pandangan tentang Lokasi Masjid Istiqlal

Perjalanan cerita kemudian memasuki persoalan lokasi pembangunan masjid.

Mohammad Hatta hadir dengan pandangan yang berbeda. Dalam naskah, Hatta mengusulkan agar masjid dibangun di kawasan Jalan M.H. Thamrin atau Tanah Abang.

Pertimbangannya adalah agar masjid berada di tengah masyarakat dan mudah dijangkau oleh umat.

Soekarno memiliki pandangan lain. Dalam dialog pementasan, masjid yang direncanakan merupakan masjid negara sehingga lokasinya perlu memiliki posisi yang mencerminkan kebesaran bangsa.

Taman Wilhelmina kemudian menjadi bagian penting dari perdebatan tersebut.

Dalam alur cerita, lokasi tersebut tidak hanya dipandang berdasarkan letak geografis. Keputusan itu juga dikaitkan dengan gagasan untuk menghadirkan simbol kemerdekaan di ruang yang sebelumnya berkaitan dengan simbol kolonial.

Kedekatan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral juga menjadi bagian dari pesan yang diangkat dalam pementasan.

Dialog Soekarno dalam naskah menggambarkan harapan agar dunia melihat Indonesia sebagai bangsa yang mampu hidup bersama dalam keberagaman.

“Agar saat dunia luar melihat ke Indonesia, mereka tidak melihat bangsa yang terpecah!”

Melalui adegan tersebut, cerita mulai bergerak dari persoalan pembangunan fisik menuju pembahasan mengenai identitas bangsa, keberagaman, dan kehidupan bersama.

Frederich Silaban dan Pesan tentang Kemajemukan

Tokoh Frederich Silaban mendapat ruang penting dalam pementasan.

Dalam naskah, Silaban digambarkan sebagai salah satu peserta sayembara desain Masjid Istiqlal. Sebelum menyelesaikan pekerjaannya, ia memohon petunjuk Tuhan.

Ia berdoa agar diberikan jalan dan gagasan apabila memang dirinya ditakdirkan untuk ikut merancang pembangunan masjid tersebut.

Dari 30 peserta sayembara yang digambarkan dalam naskah, karya Silaban kemudian menjadi karya yang terpilih.

Karakter Frederich Silaban kemudian diperkenalkan sebagai seorang anak Tapanuli dan seorang Kristen Protestan.

Bagian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pesan kemajemukan yang ingin disampaikan Teater Primago.

Silaban dalam monolognya mengungkapkan keraguan. Bagaimana mungkin dirinya merancang rumah ibadah bagi saudara sebangsanya yang beragama Islam?

Namun keraguan tersebut kemudian berkembang menjadi keyakinan bahwa kemerdekaan adalah milik bersama.

Dalam naskah, ia memberi nama karya tersebut “Ketuhanan” dan berharap rancangan yang dibuatnya dapat menjadi doa perdamaian bagi tempat sujud saudara sebangsanya.

Adegan tersebut menjadi salah satu pesan kuat bahwa sebuah karya besar dapat lahir dari kontribusi orang-orang dengan latar belakang yang berbeda.

Dalam perjalanan berikutnya, naskah memasukkan momentum 24 Agustus 1961 sebagai waktu penanaman tiang pancang pembangunan Istiqlal.

Namun perjalanan pembangunan tidak berlangsung singkat.

Pembangunan digambarkan menghadapi berbagai persoalan, mulai dari krisis ekonomi, inflasi, hingga pergolakan politik pada 1965 yang membuat proses pembangunan tersendat.

Di sinilah konsep “estafet” dalam judul pertunjukan semakin terasa.

Pembangunan Istiqlal digambarkan sebagai perjuangan yang diteruskan dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Gotong Royong Rakyat dalam Cerita Istiqlal

Alur cerita kemudian menghadirkan Presiden Soeharto.

Dalam naskah, pembangunan Istiqlal digambarkan tidak boleh berhenti meskipun kondisi keuangan negara terbatas.

Soeharto kemudian mengajak berbagai elemen masyarakat untuk bergotong royong menyelesaikan pembangunan.

Pegawai negeri, guru, petani, pedagang, dan masyarakat luas disebut sebagai bagian dari ajakan tersebut.

Tokoh pekerja bangunan kemudian hadir sebagai representasi masyarakat kecil.

Ia digambarkan menyerahkan sebagian penghasilannya untuk membantu pembangunan Istiqlal.

Adegan tersebut memberikan penekanan bahwa Istiqlal dalam cerita Teater Primago bukan hanya hasil dari keputusan tokoh-tokoh besar.

Di balik berdirinya sebuah bangunan megah, terdapat tenaga para pekerja, keringat masyarakat, kontribusi orang-orang biasa, serta semangat gotong royong.

Ada mereka yang memberikan gagasan. Ada yang merancang. Ada yang membangun. Ada yang menyumbangkan tenaga. Ada pula yang menyisihkan sebagian penghasilannya.

Semua kontribusi tersebut kemudian bertemu dalam sebuah cita-cita yang sama.

Narator membawa cerita menuju akhir pembangunan. Dalam naskah, tanggal 22 Februari 1978 disebut sebagai momentum ketika Masjid Istiqlal akhirnya berdiri megah dan diresmikan setelah perjalanan pembangunan selama 17 tahun.

Dari Sejarah Beralih Menjadi Doa

Setelah kisah pembangunan Istiqlal selesai, suasana panggung berubah.

Para tokoh sejarah perlahan mundur. Musik menjadi lebih syahdu. Cahaya panggung diredupkan.

Sorotan kemudian diarahkan kepada Dr. Budi Utomo, S.Th., MA, selaku Direktur Utama ZAWA Istiqlal, yang membacakan deklamasi puisi berjudul “Doa dari Masjid Merdeka untuk Delapan Puluh Satu Tahun Indonesia Merdeka.”

Perubahan suasana tersebut membawa pementasan memasuki babak spiritual.

Jika sebelumnya penonton diajak melihat Istiqlal melalui perjalanan sejarah pembangunannya, pada bagian ini Istiqlal dihadirkan melalui sisi spiritual.

Puisi menggambarkan Istiqlal sebagai rumah Tuhan, tempat azan berkumandang, tempat manusia beramal saleh, tempat hati bertaut, tempat manusia kembali, sekaligus tempat jiwa menemukan kesadaran spiritual.

Makna kata “merdeka” kemudian kembali diperdalam.

Kemerdekaan tidak hanya dilihat sebagai terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Dalam puisi tersebut, kemerdekaan juga dikaitkan dengan kemerdekaan batin, yaitu membebaskan diri dari segala sesuatu selain Allah dan kembali kepada-Nya.

Di titik inilah pementasan memiliki keterkaitan yang kuat dengan suasana Istighosah Qiyamul Lail.

Cerita yang sebelumnya disampaikan melalui drama kemudian bermuara pada doa.

Perjuangan manusia pada akhirnya kembali kepada penghambaan kepada Tuhan.

Doa untuk Indonesia dan Para Pemimpinnya

Deklamasi kemudian berlanjut dengan doa untuk para pemimpin dan seluruh rakyat Indonesia.

Pusaka yang diharapkan bukan sekadar benda simbolik, melainkan nilai tauhid yang dapat tertanam dalam jiwa pemimpin dan masyarakat.

Doa tersebut membawa harapan agar Indonesia memiliki pemimpin yang mampu menjalankan amanah serta memakmurkan bumi.

Suasana semakin kuat ketika terdengar seruan:

“Jaya lah negeriku. Jaya lah bangsaku. Jiwanya… raganya… Indonesia.”

Bagian tersebut kemudian ditutup dengan seruan:

“Merdeka!”

Seruan itu menjadi penghubung antara sejarah kemerdekaan, perjuangan pembangunan Istiqlal, dan makna kemerdekaan batin yang sebelumnya disampaikan melalui puisi.

“Tangan-Tangan yang Berbeda, Tapi Hatinya Satu”

Menjelang akhir pertunjukan, narator kembali menghampiri para santri.

Ia kemudian menanyakan apakah mereka sudah memahami cerita yang telah disaksikan.

Salah seorang santri memberikan jawaban yang menjadi inti dari keseluruhan pementasan:

“Masjid ini dibangun oleh tangan-tangan yang berbeda, tapi hatinya satu.”

Kalimat tersebut merangkum perjalanan cerita dari awal hingga akhir.

Ada Soekarno dengan gagasan dan nazarnya.

Ada KH Wahid Hasyim dengan usulan nama Istiqlal.

Ada Mohammad Hatta dengan pertimbangannya mengenai lokasi.

Ada Frederich Silaban yang hadir sebagai perancang dengan latar belakang berbeda.

Ada para pekerja yang mengubah rancangan menjadi bangunan nyata.

Ada masyarakat yang digambarkan ikut bergotong royong.

Dan ada generasi muda yang kemudian menerima cerita tersebut sebagai bagian dari warisan bangsa.

Dalam naskah, narator kemudian menyampaikan pesan bahwa perbedaan agama, suku, dan pandangan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling membenci.

Istiqlal kemudian dimaknai sebagai simbol kemajemukan dan rumah besar bagi kemanusiaan.

Panggung Berakhir, Pesan Tetap Tinggal

Memasuki bagian klimaks, seluruh aktor berdiri membentuk saf.

Tokoh-tokoh yang sejak awal memiliki cerita masing-masing kini berdiri dalam satu barisan.

Layar videotron kemudian menampilkan visual yang digunakan untuk memperkuat pesan tentang persaudaraan dan kerukunan.

Anak-anak kemudian menyerukan takbir dan seluruh pemain menjawab:

“Allahu Akbar.”

Setelah para pemain meninggalkan panggung, narator maju ke depan.

Pesan terakhir disampaikan bahwa Istiqlal bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga simbol kemerdekaan batin dan persatuan.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah melewati berbagai tantangan dalam perjalanan panjangnya. Karena itu, generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk merawat nilai-nilai yang telah diwariskan.

Lampu panggung kemudian padam.

Pementasan selesai.

Namun cerita tentang Istiqlal yang dibawa oleh Teater Primago meninggalkan pesan yang jauh lebih panjang daripada durasi pertunjukan.

Estafet Syukur Diteruskan oleh Generasi Muda

“Istiqlal Estafet Syukur Bangsa” pada akhirnya bukan hanya cerita tentang pembangunan sebuah masjid.

Pementasan ini menghadirkan Istiqlal sebagai ruang untuk melihat kembali perjalanan Indonesia melalui berbagai sisi: sejarah, perjuangan, perbedaan pandangan, kerja keras, gotong royong, doa, kemajemukan, dan persatuan.

Pilihan Teater Primago untuk membawa kisah tersebut ke atas panggung juga memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi media pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

Kehadiran para santri dalam cerita menjadi representasi generasi yang bertanya tentang masa lalu dan kemudian berusaha memahami jawabannya.

Dari pertanyaan sederhana mengenai mengapa Masjid Istiqlal berada berdampingan dengan Gereja Katedral, mereka dibawa untuk memahami pesan yang lebih luas tentang kehidupan bangsa.

Dari pertanyaan mengenai nama Istiqlal, mereka memahami hubungan antara masjid dan kemerdekaan.

Dari kisah para tokoh, mereka belajar bahwa sebuah karya besar dapat lahir dari banyak orang dengan latar belakang berbeda.

Dari perjalanan pembangunan yang panjang, mereka belajar bahwa sebuah cita-cita membutuhkan kesabaran, kerja keras, serta estafet antargenerasi.

Nilai itulah yang menjadi ruh utama pementasan.

Estafet berarti sebuah generasi menerima sesuatu dari generasi sebelumnya, kemudian memiliki tanggung jawab untuk meneruskannya.

Jika generasi terdahulu mewariskan sebuah bangunan bernama Istiqlal, generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk merawat nilai yang menyertainya: kemerdekaan, rasa syukur, gotong royong, ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan.

Sebab Istiqlal, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam pementasan, bukan sekadar bangunan pualam.

Istiqlal adalah bagian dari perjalanan bangsa.

Dan selama nilai-nilai yang melahirkannya terus dirawat, estafet syukur bangsa akan terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Saatnya Menjadi Bagian dari Estafet Kebaikan Bersama Primago

Nilai tentang pendidikan, kepemimpinan, kemandirian, kepedulian, dan pembentukan karakter juga menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di Primago.

Melalui pendidikan dan lingkungan pesantren, generasi muda tidak hanya diarahkan untuk memiliki pengetahuan, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kepedulian, kedisiplinan, dan bagaimana memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Bagi Ayah Bunda yang sedang mencari lingkungan pendidikan dan pesantren untuk putra-putrinya, Primago membuka kesempatan untuk menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Mari bersama-sama meneruskan estafet kebaikan melalui pendidikan yang membangun ilmu, karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Untuk informasi pendaftaran pesantren Primago, silakan hubungi WhatsApp +62 896-2002-0062.

Mari tumbuh, belajar, dan membangun generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian, serta semangat untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *